Toksin pada Angkak

Hallo!

Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai mikotoksin citrinin yang terdapat pada angkak. Sebelum itu, apa kalian tahu angkak? Mungkin untuk teman-teman Tionghoa atau yang pernah menderita demam berdarah sudah tidak asing lagi dengan kata “angkak” ini. Umumnya, angkak dikenal sebagai obat demam berdarah dan juga campuran dalam masakan daging-dagingan (sebagai pewarna merah).

1502090229977
Sumber: Dok. Pribadi

Secara definisi:

Angkak merupakan produk fermentasi beras menggunakan ragi Monascus spp.

Fermentasi beras ini merupakan salah satu tradisi di Asia Timur yang digunakan sebagai makanan pokok dan bahan tambahan makanan.

Angkak dikenal juga sebagai beni-koji yang digunakan sebagai pewarna makanan di Jepang. Selain itu, masyarakat China, Taiwan, dan Philippines menggunakan angkak sebagai pengawet daging dan ikan, serta pewarna makanan (Erdogodul dan Azirak 2004).

Angkak dibuat dengan menginokulasi kultur Monascus purpureus pada campuran beras sosoh dan air, kemudian diinkubasi selama kurang lebih 14 hari. Setelah inkubasi selesai, beras dikeringkan dan dapat diolah menjadi produk olahan lainnya.

Proses fermentasi ini menghasilkan metabolit sekunder, seperti pigmen dan zat anti-hiperkolesterolemia. Pigmen angkak memiliki sifat sedikit larut dalam air dan kurang stabil terhadap panas. Banyaknya kandungan pigmen yang terbentuk, mengakibatkan angkak banyak digunakan sebagai pewarna alami untuk minuman dan makanan, seperti anggur merah, ikan, keju, dan olahan daging (Pattanagul 2007).

Zat anti-hiperkolesterolemia yang terbentuk adalah monakolin K atau lovastatin. Lovastatin dapat menghambat biosintesa kolesterol pada penderita hiperkolesterolemia. Ternyata, selama fermentasi terbentuk juga metabolit sekunder lain yang berbahaya, yaitu mikotoksin citrinin.

Apa itu citrinin?

Citrinin adalah mikotoksin hasil metabolit sekunder yang diproduksi oleh kapang jenis Penicillium, Aspergillus, dan Monascus (Xu et al. 2006).

Menurut Blanc (1995), spesies yang menghasilkan citrinin paling tinggi adalah M. ruber sebesar 370 mg/L pada media yang berisi sukrosa.

Citrinin pada awalnya dikenal dengan monacidin A yang bersifat sebagai antibiotik, bakteriostatik, antifungal, dan antiprotozoa. Namun, uji toksisitas menunjukkan bahwa citrinin memiliki sifat nefrotoksik dan hepatoksik karena menyebabkan kerusakan fungsi dan struktur ginjal, serta perubahan metabolisme di hati (Wang et al. 2014).

Citrinin terdapat secara alami pada biji-bijian, seperti barley, gandum, padi, dan jagung. Kandungan citrinin pada biji-bijian di Tunisia terdeteksi sebesar 0.001-0.17 mg/kg (Zaied 2012), serta barley di Czech 0.093 mg/kg (Polisenska, et. al 2010). Citrinin juga terkandung dalam produk fermentasi, seperti keju, sosis, dan angkak. Kandungan citrinin pada angkak umumnya sebesar 0.2-1.71 mg/kg (Triana 2015). Kandungan citrinin yang cukup tinggi pada bahan pangan dapat diturunkan dengan pemanasan dan pengurangan jumlah air.

Karakteristik citrinin adalah sbb:

ag-cn2-0101
Sumber: Google
  • Berat molekul 250.25 g/mol
  • Bersifat sangat asam
  • Titik leleh pada suhu 172 oC (Xu et al. 2006)
  • Dapat menyerap cahaya pada panjang gelombang 250 -331 nm (Xu et al. 2006)
  • Tidak larut dalam air, larut dalam larutan polar seperti: metanol, asetonitril, etanol, dll. (Deshpande 2002).

Tipe senyawa citrinin berdasarkan sifat toksiknya:

  • H301 toksik jika ditelan
  • H311 toksik jika kontak dengan kulit
  • H331 toksik jika terhirup
  • H351 diduga dapat menyebabkan kanker

Citrinin dapat menyebabkan efek ganda pada fungsi mitokondria yang berakibat pada kematian sel. Menurut Chagas et al. (1992), citrinin dapat menghambat aktivitas enzim 2-oxoglutarate dan pyruvate dehydrogenase pada korteks ginjal dan mitokondria hati. Hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar Ca2+ pada matriks mitokondria yang berperan sebagai regulator pada berbagai proses fisiologis tubuh.

Citrinin juga dapat meningkatkan pembentukan oksigen reaktif dan menghambat kerja enzim antioksidan sehingga menimbulkan terjadinya stres oksidatif yang mendorong kematian sel (Ribeiro et al. 1997). Selain itu, citrinin dapat bereaksi sinergis dengan nefrotoksin-okratoksin A pada sereal, buah-buahan, daging, dan keju (Xu et al. 2006) yang dapat mengganggu rantai respiratori.

Wah, serem juga ya ternyata citrinin itu…

Regulasi mengenai citrinin di angkak ini belum banyak ditetapkan secara spesifik loh, terutama di Indonesia. Ini adalah beberapa negara yang telah mengatur batas maksimum citrinin dalam angkak:

  • Taiwan : produk Monascus sebagai perwarna <0.2 mg/kg, angkak sebagai bahan baku <5 mg/kg, dan produk olahan angkak <2 mg/kg.
  • Jepang : 0.2 mg/kg
  • European Food Safety Authority (EFSA) (2014) : NOAEL  0.02 mg/kg berat badan per hari dan maksimum citrinin pada suplemen angkak 2 mg/kg.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2017), beberapa sampel angkak komersial yang dijual di daerah Jabodetabek memiliki kandungan citrinin sebesar rata-rata 7.30 ±  3.72 mg/kg. Bisa teman-teman ketahui bersama kadar citrinin yang dikandung melebihi regulasi yang ada. Peneltian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara warna angkak dengan kadar citrinin yang dikandungnya. Dengan kata lain, kita tidak dapat membedakannya dengan mata telanjang.

Mungkin sekarang teman-teman bertanya-tanya bagaimana cara menghilangkan toksin tersebut pada angkak.

Berdasarkan studi literatur yang saya lakukan, citrinin tidak benar-benar dapat hilang dari angkak, namun dapat dikurangi dengan pemanasan dan kondisi fermentasi yang sesuai. Untuk detail informasi ini, teman-teman dapat membacanya sendiri pada jurnal-jurnal internasional, hehehe.

Well, sebenarnya ini adalah penelitian saya untuk tugas akhir S1.

Semoga bermanfaat 🙂

 

ps: Jangan mudah puas dengan informasi yang saya berikan ini, sebaiknya teman-teman mencari informasi yang lebih banyak dan lebih baik dari saya melalui jurnal-jurnal ilmiah lainnya.

Sumber:

Blanc PJ, Loret MO, Goma G. 1995. Production of citrinin by various species of Monascus. Biotechnology Letters. 17(3): 291-294.

Chagas GM, Oliveira MABM, Campello AP, Kluppel MALW. 1995. Mechanism of citrinin-induced dysfunction of mitchocondria. IV-effect on Ca2+ transport. Cell Biochemistry and Function. 13:53-59.

Deshpande SS. 2002. Handbook of Food Toxicology. New York (NY): Marcel Dekker, Inc.

[EFSA] European Food Safety Authority. 2014. Regards maximum levels of the contaminant citrinin in food supplements based on rice fermented with red yeast Monascus purpureus. Brussels: European Commission. [Internet] [diakses 20 Maret 2017] Tersedia pada: http://eur-lex.europa.eu.

Erdogodul O, Azirak S. 2004. Review of the studies on the red yeast rice (Monascus pupureus). Turkish Electronic Journal of Biotechnology. 2: 37-49.

Kartika G. 2017. Validasi metode dan penentuan kadar citrinin dalam angkak menggunakan instrumen LC-MS/MS. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Pattanagul P, Pinthong R, Phianmongkhol, Leksawasdi N. 2007. Review of angkak production (Monascus purpureus). Chiang Mai Journal Science. 34(20); 319-328.

Polisenska I, Leszkowicz PA, Hadjeba K, Dohnal V, Denesova O, Jezkova A, Macharackova P. 2010. Occurrence of ochratoxin A and citrinin in Czech creals and comparison of two HPLC methods for ochratoxin A detection. Food Additives and Contaminants. 27(11): 1545-1547

Ribeiro SMR, Chagas GMC, Campello AP, Kluppel MALW. 1997. Mechanism of citrinin-induced dysfunction of mitochondria V. Effect on the homeostasis of the reactive oxygen species. Cell Biochemistry and Function. 15: 203-209.

Triana E, Yulinery T. 2015. Uji toksisitas citrinin yang dihasilkan oleh angkak hasil fermentasi berbagai isolat Monascus purpureus terhadap larva Artemian salina leach. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. 1(2): 283-288.

Wang W, Chen Q, Zhang X, Zhang H, Huang Q, Li D, Yao J. 2014. Comparison of extraction methods for analysis of citrinin in red fermented rice. Food Chemistry. 157: 408-412.

Xu BJ, Jia XQ, Gu LJ, Sung CK. 2006. Review on the qualitative and quantitative analysis of the mycotoxin citrinin. Food Control. 17: 271-285.

Zaied C, Zouaoui N, Bacha H, Abid S. 2012. Natural occurence of citrinin in Tunisian wheat grains. Food Control. 28(1):106-109.

 

 

Thaumatin, Si Manis Anti Diabetes

Hello! I’m coming back!

Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai pemanis alami, yaitu Thaumatin. Sebelumnya, saya dan rekan saya Nida Raihana Zhafira pernah menulis artikel terkait Thaumatin untuk pemenuhan mata kuliah Bahan Tambahan Pangan di tahun 2016. Artikel ini akan saya tulis ulang dengan beberapa tambahan. Saya juga akan menyertakan artikel aslinya di bawah tulisan ini.

So… semoga bermanfaat ya!

Sebagian besar dari kita pastinya sudah tidak asing lagi dengan penyakit Diabetes Mellitus (DM). Mungkin ada beberapa saudara/orang terdekat kita yang terjangkit penyakit tersebut. Tapi, apakah kita benar-benar tahu penyakit seperti apa DM itu?

a9ff37783855666f2d68224355d9a979
Source: Pinterest

Menurut WHO (2017), penderita penyakit DM meningkat dari 108 juta pada tahun 1980 menjadi 422 juta pada tahun 2014. Selain itu, prevalensinya juga meningkat dari 4.7 % menjadi 8.5 % pada orang dewasa diatas 18 tahun. WHO (2017) juga menyatakan bahwa penyakit DM ini dapat menjadi penyakit mematikan ke-7 di dunia  pada tahun 2030. Penyakit ini tentunya dapat menyerang kalangan mana pun, namun umumnya banyak terjangkit pada masyarakat negara dengan pendapatan kecil menengah.

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit yang disebabkan oleh pankreas manusia tidak dapat memproduksi hormon insulin yang cukup (DM tipe I) atau tubuh manusia tidak dapat menggunakan hormon insulin secara efektif (DM tipe II). Insulin merupakan hormon yang berperan membantu pemecahan glukosa menjadi energi di dalam tubuh. Maka, jika kerja insulin tidak berfungsi akan terjadi penumpukan glukosa dalam darah (hiperglikemia). Hal ini lama-kelaman akan berakibat pada kerusakan organ tubuh lainnya.

Penyakit DM tidak dapat disembuhkan, namun dapat dicegah dan dikendalikan. Selain dengan hidup sehat dan rutin melakukan aktivitas fisik, pengendalian penyakit ini juga dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi atau mengganti gula dengan pemanis lain. Namun, banyak pula pemanis alami alternatif yang mengandung karbohidrat atau memiliki indeks glikemik yang tinggi sehingga tetap akan meningkatkan kadar gula dalam darah. Salah satu pemanis yang memiliki kalori rendah adalah Thaumatin atau Thalin.

Image result for thaumatin
Sumber : http://www.thaumatinnaturally.com

Thaumatin merupakan salah satu protein yang memiliki efek rasa manis. Thaumatin pertama kali di temukan di Afrika Barat pada buah katemfe atau nama latinnya adalah Thaumatococcus danielli. Seperti yang dapat kita lihat, nama Thaumatin diambil dari nama latin buah tersebut. Thaumatin telah digunakan selama ratusan tahun di Afrika Barat sebagai pemanis roti jagung dan buah-buahan. Pemanis ini pertama kali dikenal dunia saat seorang tentara Inggris menuliskan penggunaannya sebagai pemanis lokal di Afrika pada sebuah jurnal farmasi.

Thaumatin memiliki tingkat kemanisan 3000 kali (basis: berat basah) lebih tinggi dibandingkan dengan gula biasa. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah thaumatin yang ditambahkan ke dalam makanan akan lebih sedikit dibandingkan dengan gula untuk mendapatkan rasa manis yang sama. Maka, kadar kalori yang dikonsumsi akan lebih rendah.

Intensitas rasa manis pemanis ini lebih tahan lama dibandingkan dengan pemanis alami lainnya. Namun, membutuhkan waktu yang lebih lama atau terdapat onset of delay sebelum rasa manis tersebut dapat dikecap oleh lidah (Ahmad 2008). Selain itu, thaumatin juga memberikan efek liquorice-like after taste yang kurang menyenangkan.

Thaumatin memiliki sifat larut dalam air, tahan terhadap pemanasan, serta tahan terhadap kondisi asam sehingga pemanis ini cukup banyak digunakan pada pengolahan produk pangan. Umumnya, pemanis ini digunakan sebagai flavour enhancer. Pemanis ini juga digunakan pada permen karet. Itulah mengapa permen karet cenderung memiliki rasa manis yang lebih tahan lama di dalam mulut.

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, thaumatin termasuk ke dalam jenis protein sehingga daya cernanya tinggi sebagaimana protein lainnya. Pemanis ini juga mudah dimetabolisme dan tidak memiliki efek toksik pada tubuh. Higginbotham (1983) telah melakukan percobaan mengenai toksisitas dari thaumatin terhadap tikus percobaan. Hasil percobaan tersebut menunjukkan tidak adanya efek toksik maupun mutasi pada tikus percobaan yang diberikan konsumsi thaumatin secara rutin pada kisaran konsentrasi tertentu.

Selain itu, thaumatin telah diakui penggunaanya oleh FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) pada tahun 1985, serta European Safety Authority (EFSA) pada tahun 1988. Thaumatin juga terhasuk ke dalam kategori GRAS oleh Food and Drug Administration (FDA) US, yang berarti jumlah penggunaannya tidak dibatasi.

So, thaumatin sudah dipastikan merupakan pemanis alami yang aman bagi penderita diabetes 🙂

.

.

.

Untuk post selanjutnya tentang citrinin pada angkak, stay tune ya!

Sumber:

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs312/en/

Higginbotham JD, Snodin DJ. 1983. Safety evaluation of thaumatin (thalin protein). Food Chemistry Toxic. 21(6): 815-823.

Ahmad AL, Derek CJC, Zulkali MMD. 2008. Optimization of thaumatin extraction by aqueous two-phase system (ATPS) using response surface methodology (RSM). Separation and Purification Technology. 62:702-708.

 

ARTIKEL ASLI (2016)

Thaumatin : “Protein Pemanis Anti Diabetes”

Oleh: Ghina Kartika dan Nida Raihana Zhafira

Mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan IPB

Diabetes Melitus merupakan penyakit yang telah menjadi momok menakutkan di dunia. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, namun dapat dicegah dan dikendalikan. Salah satu pengendaliannya adalah dengan mengurangi konsumsi gula atau mengganti konsumsi gula dengan pemanis lain. Akan tetapi, Anda juga harus berhati-hati terhadap pemanis alternatif pengganti gula yang Anda konsumsi. Beberapa pemanis alami alternatif mengandung banyak karbohidrat dan memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi dibandingkan dengan gula biasa. Misalnya, pemanis alami seperti madu, sirup jagung, gula merah, dan sirup buah maple tetap dapat meningkatkan kadar gula darah Anda. Studi menunjukkan terdapat pemanis alternatif pengganti gula yang tidak dapat meningkatkan kadar gula dalam darah, yaitu thaumatin atau lebih dikenal dengan nama Talin®.

Thaumatin merupakan protein yang diekstrak dari buah Katemfe. Nama thaumatin berasal dari nama latin buah Katemfe, yaitu Thaumatococcus daniellii. Pemanis thaumatin telah digunakan selama ratusan tahun di Afrika Barat sebagai pemanis roti jagung dan buah-buahan. Pemanis ini pertama kali dikenal dunia saat seorang tentara Inggris menuliskan penggunaannya sebagai pemanis lokal di Afrika pada sebuah jurnal farmasi. Pada jurnal yang ditulisnya, ia mengaku bahwa masyarakat lokal yang mengonsumsi pangan dengan pemanis thaumatin dirasa lebih sehat dan terhindar dari penyakit diabetes.

Tingkat kemanisan thaumatin yang 2000-3000 kali lebih manis dibandingkan gula biasa, menjadikan thaumatin termasuk pemanis alami yang potensial. Penggunaan thaumatin dalam jumlah yang sangat sedikit sudah dapat memberikan rasa manis setara dengan gula biasa tanpa menghasilkan kalori berlebih. Rasa manis pada thaumatin memiliki waktu onset yang panjang dan diketahui dapat menutupi aftertaste pahit yang dihasilkan pemanis lain, seperti sakarin, asesulfam dan stevia. Karakteristik thaumatin yang  larut air, tahan terhadap panas, dan stabil pada kondisi asam menjadikan pemanis ini sangat cocok digunakan sebagai pemanis produk pangan olahan.

Thaumatin termasuk ke dalam jenis protein sehingga dapat dicerna dan dimetabolisme oleh tubuh sebagaimana protein lainnya. Berbagai studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pemanis ini tidak menimbulkan efek toksisitas pada kesehatan. Pemanis ini memiliki nilai indeks glikemik yang sangat rendah sehingga sangat baik dikonsumsi para penderita diabetes. Studi terbaru mengenai thaumatin bahkan menunjukkan bahwa pemanis ini dapat memicu produksi antibodi anafilatik yang dibutuhkan tubuh dan berkontribusi pada kesehatan gigi.

Thaumatin telah diakui penggunaannya oleh lembaga internasional, yaitu Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) pada tahun 1985, serta European Food Safety Authority (EFSA) tahun 1988. Oleh FDA US (Food and Drug Administration), thaumatin dimasukkan ke dalam kategori pangan GRAS dimana penggunaannya tidak dibatasi. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan thaumatin sangat aman untuk dikonsumsi terutama untuk para penderita diabetes.

 

 

Apa itu teknologi pangan?

Hi, hello!

Kali ini saya akan membagikan sedikit informasi yang saya dapatkan selama kuliah. Saya sedang berkuliah di jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor. Mungkin teman-teman disini banyak yang sudah tahu, sedang berkuliah, pernah berkuliah, atau ingin berkuliah disana. Saya yakin juga ada beberapa dari kalian juga ada yang belum tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang jurusan ini. Maka, saya akan mencoba sedikit menceritakan tentang hiruk pikuknya jurusan ini.

Saya mulai dari definisi : apa sih teknologi pangan itu?

food science

Mungkin banyak dari kalian yang berpikir bahwa teknologi pangan sama dengan chef atau juru masak. Pernyataan salah inilah yang sering kali berkeliaran di masyarakat. Tidak salah bahwa teknologi pangan memang berkaitan erat dengan makanan dan proses pembuatan makanan. Namun, teknologi pangan lebih bergerak pada penanganan makanan agar menghasilkan makanan yang aman dan bergizi. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat beberapa definisi teknologi pangan (Syah 2012) :

Aplikasi ilmu pangan ke dalam sistem seleksi, pengawetan, pengolahan, pengemasan, distribusi, dan pemanfaatan bahan pangan yang baik, aman, dan bergizi.

Dilihat dari definisinya, teknologi pangan tentunya berkaitan dengan ilmu pangan itu sendiri, yaitu :

Ilmu dasar yang menggabungkan prinsip-prinsip ilmu biologi, kimia, fisika, dan teknik (engineering) yang digunakan mempelajari karakteristik bahan pangan, mekanisme kerusakan, dan pencegahannya, serta dasar-dasar pengolahannya.

Seorang teknologi pangan tentunya berbeda dengan juru masak. Bedanya dimana? Juru masak biasanya cenderung hanya melihat bagaimana makanan tersebut enak dikonsumsi dan berpenampilan enak dipandang. Namun, seorang teknologi pangan juga melihat bagaimana makanan tersebut dapat awet dalam jangka waktu tertentu, aman untuk dikonsumsi, serta menjaga kandungan gizi agar tetap utuh.

Teknologi pangan juga mencakup proses pengolahan dari bahan mentah menjadi bahan jadi atau setengah jadi, yang dikenal dengan istilah  from farm to table atau form farm to fork. Proses-proses operasi yang perlu dikuasai oleh seorang teknologi pangan, antara lain sorting dan grading, pengeringan, pendinginan, evaporasi, penggorengan, baking, dan sebagainya. Empat bidang utama dari jurusan ini adalah Kimia Pangan, Analisis Pangan, Mikrobiologi Pangan, dan Food Processing/Engineering. Untuk memenuhi keempat bidang ini tentunya kita harus memahami bidang dasar yang mendukung terlebih dahulu, seperti Kimia, Fisika, dan Biologi.

Bell_MG_3236-1024x6821

Bagaimana kehidupan kuliah di jurusan teknologi pangan?

Tentunya sangat menarik dan tidak membosankan. Kita dapat mengetahui karakteristik makanan dan apa saja yang dikandung makanan tersebut. Selain kuliah, praktikum yang cukup banyak juga dapat menambah kemampuan mahasiswa teknologi pangan.

Bidang pekerjaan bagi lulusan teknologi pangan cukup banyak dan menjamin, tentunya selama manusia masih membutuhkan makanan, maka masih diperlukan teknologi pangan 🙂 Seorang teknologi pangan dapat bekerja di industri pangan, maupun BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan), sebagai QC (Quality Control), QA (Quality Assurance), pengembangan produk, evaluasi sensori, dan sebagainya.

Baiklah, sekian untuk postingan kali ini. Semoga belum dapat memberikan informasi yang cukup bagi teman-teman sehingga memacu untuk mendalaminya lebih jauh.

Jangan ragu untuk masuk jurusan Teknologi Pangan! 🙂

Nantikan postingan-postingan selanjutnya yaaa……… Ciaooo^^

.

.

Danke.

IFT-logo-tanpa-daun-fixx-header-web-IFT

Sumber :

Syah D. 2012. Pengantar Teknologi Pangan. Bogor (ID) : IPB Press.

Kostumisasi Perangkat Keras

  1. Keyboard

 keyboardkeyboard 2

  • Step : Control Panel – Keyboard – Keyboad Properties
  • Repeat delay berfungsi untuk mengatur seberapa cepat delay yang terjadi antara pengetikan pertama dan kedua.
  • Repeat rate berfungsi untuk mengatur kecepatan pengetikan.
  • Cursor blink rate berfungsiuntuk mengatur kecepatan kedipan kursor.
  1. Mouse

mouse

  • Step : Control Panel – Mouse
  • Double-Clik Speed berfungsi untuk mengatur kecepatan untuk melakukan double clik.
  • Turn On Clik Lock berfungsi untuk memungkinkan melakukan drag suatu file dari suatu tempat ke tempat lain tanpa harus menahan tombol mouse.
  1. Personalize – Resolusi

perso

  • Step : Klik kanan pada desktop – Personalize – Display – Adjust Resolution

  1. Kapasitas RAM

prope proper

  • Step : Menu – Computer – Klik Kanan – Properties

  1. Printer

printer

  • Step : Control Panel – Devices and Printers

  1. Program and Features

program n feautures

  • Step : Control Panel – Program and Features
  • Fungsi : Untuk meng-install atau meng-uninstall program aplikasi atau Windows Update.

  1. Multiple Display

mul

  • Step : Klik tombol F4 pada keyboard
  • Computer only : layar komputer hanya akan muncul pada komputer pengguna, tidak pada layar proyektor.
  • Duplicated : untuk menampilkan pada dua layar, layar komputer pengguna dan layar proyektor sama persis.
  • Extend : untuk menampilkan pada dua layar, namun pengguna dapat memilih kerja yang akan ditampilkan pada layar proyektor.
  • Projector only : kerja hanya akan tampil pada layar proyektor.

  1. Sound

sound

  • Step : Control Panel – Sound

Prinsip dan Teknik Pengawetan Pangan

Agar dapat berjalan, setiap reaksi kimiawi dan enzimatis membutuhkan kondisi lingkungan yang optimum (misalnya suhu, pH, konsentrasi garam, ketersediaan air, kofaktor dan faktor lainnya). Sebagai contoh, mikroorganisme memerlukan semua kondisi yang optimum untuk berlangsungnya reaksi kimiawi dan enzimatis, dan juga membutuhkan karbon, sumber nitrogen, beragam mineral, dan ada atau tidak ada oksigen (aerobik/anaero-bik), beberapa vitamin dan sebagainya.

Kehilangan mutu dan kerusakan pangan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

    1. Pertumbuhan mikroba yang menggunakan pangan sebagai substrat untuk memproduksi toksin didalam pangan;
    2. Katabolisme dan pelayuan (senescence) yaitu proses pemecahan dan pematangan yang dikatalisis enzim indigenus;
    3. Reaksi kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan penyimpanan;
    4. Kerusakan fisik oleh faktor lingkungan (kondisi proses maupun penyimpanan) dan
    5. Kontaminasi serangga, parasit dan tikus.

Untuk mengontrol kerusakan kita harus membuat kondisi yang dapat menghambat terjadinya reaksi yang tidak dikehendaki. Secara umum, penyebab utama kerusakan produk susu, daging dan unggas adalah mikroorganisme sementara penyebab utama kerusakan buah dan sayur pada tahap awal adalah proses pelayuan (senescence) dan pengeringan (desiccation) yang kemudian diikuti oleh aktivitas mikroorganisme. Prinsip pengawetan pangan ada tiga, yaitu:

    1. Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial;
    2. Mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan; dan
    3. Mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan termasuk serangan hama. Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial dapat dilakukan dengan cara:
    • Mencegah masuknya mikroorganisme (bekerja dengan aseptis);
    • Mengeluarkan mikroorganisme, misalnya dengan proses filtrasi;
    • Menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme, misalnya dengan penggunaan suhu rendah, pengeringan, penggunaan kondisi anaerobik atau penggunaan pengawet kimia;
    • Membunuh mikroorganisme, misalnya dengan sterilisasi atau radiasi.

 

sumber : http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Prinsip+dan+Teknik+Pengawetan+Makanan+(+Pangan+)&&nomorurut_artikel=93